{"id":3553,"date":"2019-04-04T09:28:51","date_gmt":"2019-04-04T02:28:51","guid":{"rendered":"http:\/\/www.fikarschool.sch.id\/?p=3553"},"modified":"2019-04-04T09:28:51","modified_gmt":"2019-04-04T02:28:51","slug":"saatnya-mengajarkan-anak-naik-kendaraan-umum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/saatnya-mengajarkan-anak-naik-kendaraan-umum\/","title":{"rendered":"Saatnya Mengajarkan Anak Naik Kendaraan Umum"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\">Saatnya Mengajarkan Anak Naik Kendaraan Umum &#8211; Kerusuhan pada unjuk rasa penolakan angkutan umum berbasis\u00a0<em>online <\/em>membuat sebagian orang tua cemas akan pendidikan anak mereka. Bukan apa-apa, banyak di antara ayah-bunda di Jakarta yang mengandalkan ojek dan taksi\u00a0<em>online<\/em>\u00a0untuk mengantar-jemput anak mereka sekolah. Seperti yang dialami Amarga Arastiana, 29 tahun. Wanita karier warga Pancoran, Jakarta Selatan, ini biasa memesan ojek atau taksi\u00a0<em>online<\/em>\u00a0sebagai transportasi anaknya yang duduk di bangku taman kanak-kanak, beberapa kilometer dari rumahnya. Si anak pulang-pergi ditemani pengasuhnya. Saat demonstrasi 22 Maret lalu, Amarga kesulitan mencari angkutan untuk anaknya.<\/p>\n<p align=\"justify\">Kejadian itu membuatnya berpikir ulang soal transportasi anak. Menurut dia, anak harus diajari naik kendaraan umum sejak dini. \u201cAnak saya menangis waktu naik angkot, karena melihat banyak sekali orang,\u201d kata Amarga seperti ditulis\u00a0<em>Koran Tempo<\/em>, Kamis, 31 Maret 2016.<\/p>\n<p align=\"justify\">Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Angesty Putri, mengatakan memperkenalkan anak pada kendaraan umum merupakan langkah positif. Terlebih jika orang tua itu memiliki kendaraan pribadi dan waktu untuk mengantar jemput anaknya. Sebab, banyak manfaat yang bisa didapat anak dengan meninggalkan zona nyaman mereka.<\/p>\n<p align=\"justify\">Pertama adalah melatih kesabaran. \u201cBersabar menunggu kendaraan umum yang datangnya tidak pasti, bersabar menahan gerah, dan bersabar menunggu giliran untuk naik,\u201d katanya. Kedua, menumbuhkan keberanian, dari yang biasanya jarak rumah sekolah hanya bersama pengasuh atau sopir, kini si bocah harus berhadapan dengan dunia yang dipenuhi orang asing. Ketiga, kepekaan anak makin terlatih karena berinteraksi dengan berbagai macam manusia di transportasi massal. \u201cSeperti anak seusianya, orang kantoran, pedagang, dan lainnya, sehingga anak dapat lebih menghargai orang lain.&#8221;<\/p>\n<p align=\"justify\">Angesty memberi masukan cara memperkenalkan anak terhadap angkutan umum. Hal yang pertama adalah mempersiapkan mental. &#8220;Jangan secara tiba-tiba&#8221; ujarnya. Menurut dia, anak bisa diperkenalkan secara perlahan, misalnya lewat buku bergambar angkutan kota, bus, juga kereta. &#8220;Bisa juga memainkan alat yang bunyinya seperti alat transportasi.&#8221;<\/p>\n<p align=\"justify\">Psikolog yang juga berpraktek di Sekolah Insan Cendekia Serpong ini mengatakan perkenalan tahap awal itu bertujuan memberi gambaran kepada anak akan suasana moda transportasi yang akan mereka tumpangi. &#8220;Juga menumbuhkan ketertarikan anak untuk mencoba naik kendaraan umum,&#8221; kata Angesty.<\/p>\n<h1 style=\"text-align: center;\" align=\"justify\">Saatnya Mengajarkan Anak Naik Kendaraan Umum<\/h1>\n<p align=\"justify\">By : <strong><a href=\"http:\/\/www.fikarschool.sch.id\">Sekolah Karakter<\/a><\/strong> Fikar School<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saatnya Mengajarkan Anak Naik Kendaraan Umum &#8211; Kerusuhan pada unjuk rasa penolakan angkutan umum berbasis\u00a0online membuat sebagian orang tua cemas akan pendidikan anak mereka. Bukan apa-apa, banyak di antara ayah-bunda di Jakarta yang mengandalkan ojek dan taksi\u00a0online\u00a0untuk mengantar-jemput anak mereka sekolah. Seperti yang dialami Amarga Arastiana, 29 tahun. Wanita karier warga Pancoran, Jakarta Selatan, ini biasa memesan ojek atau taksi\u00a0online\u00a0sebagai<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[986],"tags":[],"class_list":["post-3553","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news-article","no-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3553","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3553"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3553\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3553"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3553"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3553"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}