{"id":3125,"date":"2018-05-12T09:55:24","date_gmt":"2018-05-12T02:55:24","guid":{"rendered":"http:\/\/www.fikarschool.sch.id\/fikar\/?p=3125"},"modified":"2018-05-12T09:55:24","modified_gmt":"2018-05-12T02:55:24","slug":"perlukah-menghukum-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/perlukah-menghukum-anak\/","title":{"rendered":"Perlukah Menghukum Anak?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">[image src=&#8221;https:\/\/www.fikarschool.sch.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/Perlukah-Menghukum-anak.jpg&#8221; shape=&#8221;img-circle&#8221;]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apabila dilihat lebih dalam, sebenarnya perilaku anak sangat bergantung pada perkembangan fisik, emosional, usia, dan juga kepribadiannya.\u00a0Tetapi yang sering terjadi justru perilaku anak dianggap bermasalah ketika\u00a0tidak sesuai dengan harapan\u00a0orangtua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hampir 90 persen orangtua mengaku pernah memberikan hukuman fisik pada anaknya, padahal hukuman fisik ini akan memiliki dampak membahayakan ketika anak tumbuh dewasa nanti. Tahukah anda, bahwa kekerasan fisik pada anak dapat menyebabkan keseimbangan emosi anak terganggu?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin ada orangtua yang berpikir, dengan memberikan hukuman fisik yang cukup keras akan dapat menghentikan kenakalan anaknya. Tetapi celakanya cara itu justru dapat menimbulkan masalah lain lagi. Sebab meskipun anak hanya sesekali dipukul, hal itu tetap dapat menyebabkan anak menjadi tidak percaya diri dan mudah stres.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanyaannya, bisakah kita mencetak anak-anak hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut dalam diri mereka? Mungkin kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman, seperti gesper, rotan pemukul, dan seterusnya. Tetapi bukan berarti cara seperti itu perlu kita wariskan kepada anak cucu kita. Jaman telah berubah!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hukuman untuk anak kerap\u00a0menjadi pertanyaan bagi banyak orangtua. Beberapa\u00a0memilih untuk memberi hukuman, sedangkan yang lain memilih untuk membiarkan kesalahan anak. Seringkali hukuman yang bersifat mengancam atau menimbulkan rasa takut tidak mempan pada anak. Mereka justru akan bereaksi negatif dan tidak memperbaiki perilaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam banyak kasus, biasanya\u00a0orangtua memberikan hukuman sebagai reaksi atas perbuatan\u00a0yang dilakukan oleh anak. Bentuk hukuman ini\u00a0seringkali adalah apa\u00a0yang terlintas di benak\u00a0orangtua saat itu. Setelah memberi hukuman, orangtua\u00a0beranggapan\u00a0bahwa hal itu akan membuat anak mereka jera,\u00a0dan tidak akan mengulanginya lagi. Apakah cara memberikan hukuman seperti ini efektif?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat anak melakukan kesalahan, janganlah bereaksi secara berlebihan. Setiap kali anda hendak\u00a0menghukum anak, cobalah untuk memahami\u00a0dulu masalah yang dibuatnya, dan kemudian jelaskan dampak dari perbuatannya itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa yang sebenarnya kita harapkan saat memberi hukuman kepada anak? Pernahkah kita berpikir sejenak, apabila hukuman\u00a0yang kita berikan\u00a0itu bisa mencapai tujuan yang kita harapkan? Apakah\u00a0kita hanya ingin menghukum agar mereka menyesal, atau ada makna lain\u00a0yang ingin kita sampaikan\u00a0melalui hukuman tersebut?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apabila anda\u00a0berada dalam situasi yang harus memberikan hukuman, sebaiknya lakukanlah\u00a0dengan cinta, bukan dengan kekerasan atau hukuman fisik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada tiga cara yang lebih efektif untuk menghukum anak, tanpa harus menyakiti anak, yaitu:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Berikan anak\u00a0waktu sendiri untuk merenungi kesalahannya, tahap ini disebut refleksi diri, kemudian\u00a0ajaklah anak\u00a0mengobrol dan tanyakan mengapa dia\u00a0berulah.<\/li>\n<li>Berikan anak tugas atau\u00a0pekerjaan tambahan di rumah, agar mereka belajar untuk memenuhi tanggung jawab yang telah mereka sanggupi sebelumnya.<\/li>\n<li>Larang anak melakukan kegiatan kesukaannya untuk sementara waktu, seperti dilarang bermain video game atau menonton televisi\u00a0selama satu minggu.\u00a0Dan jangan lupa untuk membahas mengapa ia melanggar aturan dan bagaimana seharusnya ia bersikap.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun demikian, tidak berarti semua cara diatas dapat diterapkan pada anak di\u00a0segala usia. Ketika anak berbeda usia, maka akan berbeda pula cara menghukumnya, dan berbeda pula efektivitas serta dampaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bentuk hukuman sebaiknya disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, untuk anak yang masih berusia dibawah 5 tahun sebaiknya diberikan hukuman dengan cara memberi waktu sendiri. Sedangkan untuk anak yang berusia diatas 5 tahun sebaiknya diberikan hukuman berupa\u00a0tambahan tugas rumah, atau mencabut haknya untuk melakukan aktifitas kesukaannya\u00a0sementara waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Metode hukuman yang paling tepat adalah metode yang membantu anak untuk mempelajari aturan-aturan yang ada di sekitarnya. Aturan\u00a0ini akan membantu anak untuk memahami apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum menerapkan aturan\u00a0ini, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan anak. Buat negosiasi yang baik tentang pengaturan kegiatan sehari-hari anak, seperti waktu\u00a0bermain, pekerjaan rumah yang harus dilakukan, dan sebagainya. Dengan dibuatnya aturan bersama ini anak diharapkan bisa memperbaiki perilaku salahnya di kemudian hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Satu lagi yang perlu kita ingat adalah, jangan memberi hukuman anak pada saat kita marah. Karena tujuan dari hukuman itu untuk mengajari anak agar berperilaku lebih baik lagi di kemudian hari, bukan untuk impas. Memang terkadang perilaku anak dapat membuat kita hilang kesabaran, namun itu bukanlah alasan\u00a0yang tepat untuk menjatuhkan hukuman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena tujuan dari memberikan hukuman itu\u00a0adalah mengajarkan anak untuk mengambil keputusan yang lebih baik dan mengubah perilaku buruknya. Hukuman akan bermanfaat dan sangat efektif jika ditetapkan atau disepakati bersama sebelumnya. Hukuman ini tidak akan berjalan dengan baik jika berupa reaksi yang impulsif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komunikasi yang empati, penuh kasih sayang, dan tetap tegas dapat membantu anak memahami kesalahan yang ia lakukan.\u00a0Biarkan anak mendapatkan pengalaman dari kesalahannya, agar\u00a0berikutnya mereka bisa lebih bertanggung jawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semoga bermanfaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Fikar School <a href=\"http:\/\/www.fikarschool.sch.id\/fikar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sekolah karakter<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>[image src=&#8221;https:\/\/www.fikarschool.sch.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/Perlukah-Menghukum-anak.jpg&#8221; shape=&#8221;img-circle&#8221;] Apabila dilihat lebih dalam, sebenarnya perilaku anak sangat bergantung pada perkembangan fisik, emosional, usia, dan juga kepribadiannya.\u00a0Tetapi yang sering terjadi justru perilaku anak dianggap bermasalah ketika\u00a0tidak sesuai dengan harapan\u00a0orangtua. Hampir 90 persen orangtua mengaku pernah memberikan hukuman fisik pada anaknya, padahal hukuman fisik ini akan memiliki dampak membahayakan ketika anak tumbuh dewasa nanti. Tahukah anda, bahwa kekerasan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[986],"tags":[],"class_list":["post-3125","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news-article","no-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3125","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3125"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3125\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3125"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3125"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fikarschool.sch.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3125"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}